Karya: Christina Natalia Setyawati
Air mata ini bukan lagi liur langit yang bermuka dua
Bukan pula bentak guruh yang menakuti dada
Ia menetes seperti cairan asam di atas luka
Mengoyakkan kulitku, merobek daging satu per satu tanpa sisa
Rasanya seperti dikuliti dalam bilik kesunyian
Di bawah tatapan dingin rembulan yang tak kenal kasihan
Pikiranku memekik, menjerit dalam kebisuan
Menatap ragaku yang terkelupas ditelan kenyataan
Kupandangi sepasang tanganku yang kini tak rupa
Sepuluh jemari hilang direnggut duka
Putus satu per satu, tercampak ke dasar muara
Tak ada lagi genggaman, tak ada lagi peluk mesra
Aku kini hanya sisa serpihan raga tanpa nama
Dikuliti duka, dipatahkan jemari, dibuang semesta
Merayap pasrah di tanah dingin yang tak lagi punya rasa
Menunggu tangis terakhir melenyapkanku ke nirwana
Bandar Lampung, 25 Agustus 2026