Karya: Aulia Hasymi Rahma
Di balik senja yang perlahan meredup,
Ibu menyimpan tangis yang lembut.
Air matanya jatuh tanpa suara,
menyusuri pipi bersama doa.
Tangannya letih mengusap derita,
namun senyumnya tetap penuh cinta.
Ia menyembunyikan luka di dada,
demi melihatku menjemput bahagia.
Ibu, tangismu bukanlah kelemahan,
melainkan bukti kasih dan pengorbanan.
Setiap tetes air mata yang mengalir,
menjadi doa agar langkahku tidak tergelincir.
Kini kusadari, setelah sekian lama,
cintamu lebih luas daripada samudra.
Jika kelak hidupku dipenuhi bahagia,
namamu akan selalu hadir dalam doa.
Wahai Ibu, jangan lagi menangis,
biarkan senyum menghiasi wajah manis.
Sebab setiap langkah yang kutapaki,
selalu ada doamu yang mengiringi.
Semarang, 25 Agustus 2026