Karya: Bela citra febriani
Kukira semua hanya mimpi buruk malam
Bagai diserang bara api, kau menghakimiku
Air mata mengalir bersama hujan di luar jendela
Petir bergemuruh, mengingatkanku akan dirimu
“Apakah layak aku menerima semua ini sendiri?”
Tanyaku pada hujan malam.
Semua telah kuusahakan,
Haruskah aku tetap berjuang?
Hujan perlahan reda,
Kulihat bulan mulai bersinar.
Membawaku kembali pada masa indah
Saat pertama kali bertemu denganmu.
Dengan tekad yang kembali membara,
Aku bangkit dan menghapus air mata.
Semua kacau layaknya benang kusut,
Namun bukan berarti tak dapat kuurai.
Tangisan menyisakan luka,
Namun dari luka itu aku belajar berdiri.
Kini aku tahu,
Air mata bukan tanda aku kalah,
Melainkan bukti bahwa aku pernah bertahan.
Palembang, 27 agustus 2026