Karya: Aulia Zalzabila
Ayah,
aku tidak pernah tahu
bahwa pelukan itu adalah yang terakhir.
Saat itu,
aku masih sempat melepaskan tanganmu,
tanpa sadar bahwa setelahnya
aku tidak akan pernah bisa memelukmu lagi.
Kini rumah masih sama,
kursimu masih di sana,
tetapi suaramu telah menjadi doa yang menggantung.
Aku merindukan caramu menyebut namaku,
merindukan nasihat yang dulu
sering kuanggap angin lalu.
Ayah,
jika rindu bisa menjadi jalan,
aku rela berjalan sejauh apa pun
hanya untuk sekali lagi
bersandar di dada yang dulu menjadi rumahku.
Aku ingin berkata,
“Maafkan aku, Yah. Terima kasih
telah menjadi rumah
bagi langkah kecilku.”
Namun kini,
yang mampu kupeluk hanyalah kenangan
dan hujan di dalam dada.
Dan setiap malam,
air mataku jatuh diam-diam,
sebab aku tahu—
pelukan terakhir itu
tidak akan pernah terulang.
(Kolaka Utara, 25 agustus 2026)