Karya: Adinda Dwi Istiqomah, S.Pd
Tangis ini bukan sekadar air mata yang meluncur di pipi,
ia adalah hujan panjang turun dari langit jiwa yang retak,
menembus celah dada yang tak sanggup lagi menahan rindu,
meresap perlahan hingga sumsum tulang, membasuh luka diam.
Setiap tetes membawa rintih yang tak sempat terucap,
berat seperti kenangan yang tak mampu kau bawa pulang,
mengalir tenang namun menghancurkan benteng kesabaran,
menyisakan getar lembut yang membelenggu napas dan harapan.
Bukan raungan yang memecah keheningan malam,
melainkan bisik jiwa yang akhirnya melepaskan beban —
bahwa tangis adalah doa tanpa kata yang dipahami langit,
bahwa rapuh bukan lemah, melainkan hati yang masih punya rasa,
di hadapan takdir yang sering berlalu tanpa pesan.
Mojokerto, 24 Agustus 2026