Tentang Tawa dan Cermin
Karya: Adinda AndiniDi balik banyaknya tubuh,
di balik banyaknya suara,
mengapa seakan aku hanya bisa melihat
dan mendengarnya?
Tawa yang melawan banyaknya suara itu,
tawa yang bergema di telingaku.
Membuat diriku bertanya,
"Siapa dia?"
Mengapa tawanya tidak pernah kulihat?
Jenis tawa seperti apa yang indah itu?
Aku ingin tertawa sepertinya.
Tawa yang seakan-akan bebas,
abadi dan apakah itu
yang dinamakan tertawa tulus?
Walau tak mengenalnya,
aku ingin melihat dirinya
abadi dalam tawa.
Walau diriku harus melihat cermin,
bingung memilih ekspresi.
Namun, sekarang aku berjalan
seperti dirinya.
Tawa tanpa cermin.
Medan, 28 Agustus 2026