Karya: Adi Eriwanto
Angin berdesir lembut,
aroma masa lalu terasa dekat.
Aku melihat seorang anak kecil,
terpaku seorang diri memandang langit.
Ia mengingatkanku
pada kisah masa lalu,
sekumpulan anak-anak desa
yang setiap senja berlarian, tertawa bersama.
Tumbuh dalam dekapan alam,
bermain di antara pepohonan,
besar bersama harapan,
mengikuti takdir yang digariskan Tuhan.
Tahun ini usiaku kepala tiga,
namun harapan belum terlaksana.
Cita-citaku menghadirkan tawa bahagia
kepada seluruh keluarga.
Anak itu berbalik melihatku.
Tatapannya penuh kehangatan.
Kaki kecilnya menghampiriku,
pelan, tetapi pasti tanpa ragu.
Semakin dekat, semakin jelas.
Sorot matanya begitu tajam.
Ia berdiri tepat di hadapanku.
Air mata menetes perlahan,
saat kusadari anak itu adalah aku.
Ia tersenyum tipis,
lalu berkata:
"Tetaplah kejar cita-cita itu.
Aku akan selalu bangga
mempunyai dirimu di masa depanku.
Hentikan tangismu.
Tertawalah dengan bahagia,
seperti dirimu yang dulu."
Semarang, 23 Agustus 2026