SAAT SUNYI MENANAM AKAR
Karya: ZulfaNamaku pernah pulang
membawa wajah yang bukan miliknya.
Sejak saat itu, tatapan menjadi asing;
senyum menjelma jarak,
dan setiap langkahku dituduh salah.
Aku kutip pecahanku
dari sudut-sudut yang menghabis percaya.
Kukatakan "baik-baik saja",
padahal tiap malam
air mata lebih fasih daripada doa.
Di hadapan-Nya aku hanya sanggup diam.
Namun Dia tahu semua
yang gagal kuucapkan.
Dan dunia tetap berjalan.
Waktu tidak menyembuhkan.
Ia hanya mengajariku
berdamai dan berjalan bersama luka.
Lalu pelan-pelan,
sunyi menanam akar
di tanah yang dulu kusebut rapuh.
Di sanalah aku mengerti:
ketika manusia menolak,
harga diriku tidak ikut runtuh.
Maka jika nanti ada yang datang
membawa luka serupa,
aku tak ingin menjadi hakim.
Aku ingin menjadi teduh
baginya,
tempat akar-akar baru
belajar tumbuh
di tanah yang tak pernah dipilih.
Palembang, 20 Juli 2026