Akar yang Menolak Tumbang
Karya: ZahiraAku tak lahir sebagai pohon yang menjulang,
hanya sebutir benih yang dititipkan pada gelap.
Tanah mengeja namaku dalam bahasa yang tak dipahami langit.
Sementara badai berkhotbah bahwa segala yang tumbuh akan gugur.
Namun akar mengenal sunyi lebih lama daripada daun mengenal cahaya.
Badai boleh menggoyangkan batang, tetapi ia tak pernah mengenal akar.
Di bawah tanah, waktu tak diukur oleh musim, melainkan oleh ketabahan.
Kukecap harum hujan yang terasa hangat di dada,
seolah luka hanyalah musim yang sedang belajar menjadi kehidupan.
Aku menggali, menggali, menggali—
hingga kusadari: yang runtuh hanyalah ketakutan.
Barangkali langit hanya mengenal rindang, tak pernah kedalaman akar.
Pontianak, 28 Juli 2026