Mekar dari patah
Karya: Wisnu KrisnaAda hari-hari ketika hidup terasa begitu sunyi,
seolah langit lupa menitipkan warna,
dan langkah menjadi berat
karena luka memilih tinggal lebih lama daripada bahagia.
Aku pernah mengira,
patah adalah akhir dari segala arah.
Bahwa setiap air mata
adalah salam perpisahan dari harapan.
Namun waktu, dengan caranya yang diam,
mengajariku sebuah rahasia:
bahwa benih tak pernah tumbuh
di tanah yang selalu nyaman.
Luka memang tidak meminta izin untuk datang.
Ia mengetuk tanpa salam,
mengacak mimpi,
menguji keyakinan,
lalu meninggalkan retakan
yang tak kasat mata.
Tetapi justru di sela-sela retakan itulah
cahaya menemukan jalan pulang.
Aku belajar,
bahwa menjadi kuat
bukan berarti tak pernah jatuh,
melainkan berani berdiri
meski lutut masih gemetar.
Bukan tentang melupakan rasa sakit,
melainkan berdamai dengannya,
hingga ia tak lagi menjadi penjara,
melainkan guru yang mengajarkan arti bertumbuh.
Maka kini,
aku tak lagi memusuhi luka.
Sebab setiap bekas yang tertinggal
adalah peta perjalanan
yang mengingatkanku
betapa jauhnya aku telah melangkah.
Aku bukan bunga yang mekar
di taman yang selalu teduh.
Aku adalah bunga
yang memilih hidup
di antara badai,
mengubah tangis menjadi embun,
mengubah patah menjadi akar,
dan mengubah kehilangan
menjadi alasan untuk tetap bertahan.
Karena pada akhirnya,
yang paling indah bukanlah hidup tanpa luka,
melainkan hati yang tetap memilih mencintai,
meski pernah dikecewakan;
tetap memilih percaya,
meski pernah dijatuhkan;
dan tetap memilih melangkah,
meski berkali-kali dipatahkan.
Sebab bunga yang tumbuh
setelah musim paling kelam
akan mengajarkan dunia
bahwa keindahan bukan lahir dari kesempurnaan,
melainkan dari keberanian
untuk terus hidup,
terus berharap,
dan terus mekar,
meski pernah patah.
serang , 29 Juli 2026