Dibaca: Memuat...
Patah
Karya: Titi Dwi SugiatiAda yang lupa cara memulai hari
Sebab ada letih tumbuh terlalu lama
Sesak yang tak kunjung menemukan bahasa
Dan kepingan rasa tercecer mencari rumahnya
Penat tumbuh mengakar
Merayap memenuhi ruang
Mengendap tanpa jejak
Menjelma beban tak kasat mata
Hingga napas terasa berat dan menyiksa
Ada yang diam-diam runtuh tanpa suara
Namun tetap mengukir senyum seperti lampu yang di paksa menyala
Jauh di kedalaman batinnya
Ada retakan kian melebar
Sebab harapan runtuh perlahan
Negeriku sedang sakit keras
Anak bangsa mengadaikan mimpinya
Bukan karena kurang usaha
Sebab angka rupiah lebih dipuja
Negeriku sedang berduka
Anak bangsa kehilangan nyawa
Bukan karena timah panas yang menyasar dikepala
Tapi kemiskinan yang meruntuhkan mimpinya
Tubuh mungilnya ambruk
Diantara reruntuhan harapan
Hancur berkeping-keping menyisakan isak sepanjang kehidupan
Perjuangan mengejar gelar
Pupus didepan tagihan
Mimpi dicekik
Harapan dibunuh
Cahaya kehilangan pijarnya
Keberanian tak lagi menyala
Perjuanganya sia-sia
Negaraku menjelma sebagai algojo penghancur harapan
Tak ada lagi pemutus rantai kemiskinan
Anak bangsa pulang kampung membawa kegagalan
Bukan karena kurang pintar
Tapi, pendidikan bukan lagi tangga sosial
Melainkan tembok beton yang mengurung kembali dalam garis kemiskinan
Patah tak selalu lahir karena kehilangan seseseorang
Sebab ada beberapa retak yang tumbuh
Karena tercekik kebijakan
Terbunuh status sosial
Bahkan di mutilasi oleh tagihan
Malang, 22 Juli 2026