Tumbuh Dari Luka
Karya: Siti Fathimah WulandariTUMBUH DARI LUKA
Ada yang tumbuh,
bukan dari musim yang ramah,
melainkan dari tanah retak
yang tak pernah sempat dipulihkan.
Ia belajar mengenal dunia
dari suara yang pecah,
dari ruang yang tak pernah benar-benar
menjadi tempat pulang.
Sejak itu,
ia akrab dengan sunyi,
menyimpan perih
tanpa pernah diajari cara mengeluh.
Langkahnya lalu pergi,
meninggalkan yang tak sempat diselamatkan,
membawa diri ke tempat asing
yang tak menanyakan siapa ia sebelumnya.
Di sana,
hidup disusun perlahan,
dari sabar yang dipungut satu per satu,
dari harap yang tak pernah benar-benar padam.
Ia memilih tetap lembut
pada dunia yang kerap bersikap sebaliknya.
Sebab ia percaya
bahwa kebaikan
tak pernah benar-benar sia-sia,
meski sering kembali dalam bentuk luka.
Dan benar,
luka tak hilang,
ia hanya berganti rupa.
Kadang hadir sebagai kata
yang tak terlihat,
namun mampu merobohkan
lebih dalam dari apa pun yang kasatmata.
Hingga pada suatu titik,
ia berhenti bertanya
mengapa semuanya harus terjadi.
Ia hanya menengadah,
menyerahkan yang tak mampu ia genggam
pada langit yang tak pernah lalai mendengar.
Lalu waktu berputar,
membawa kembali sesuatu
yang dulu pernah hilang.
Bukan untuk mengulang,
melainkan untuk mengembalikan
yang sempat tertunda.
Dan di sanalah,
ia berdiri lagi,
dengan sisa-sisa yang telah ditempa,
dengan luka yang tak lagi disangkal.
Sebab pada akhirnya,
ada yang tidak hancur karenanya,
ia justru tumbuh
dari luka.
Batam, 11 Juli 2026