Pena yang Kusebut Intang
Karya: RUSMIAH BALELENG, S.Pd.Dia kerap mengagihkanku afeksi
Dirajutnya asa
Kelak aku menjelma orang besar
Didongkratnya ambisiku untuk terus kenyam ilmu
Bahkan kulihat di setiap napasnya, jemarinya berlutut pada-Nya
Dia, ibuku Intang!
Saat Sang Hyang Widhi memanggilnya
Biji mataku beku
Bulir bening pun subur, hobi mendekap kornea
Bak roboh jembatan pendidikan itu
Bak tinta pena meleleh habis
Tapakku berasa tak bernapas
Bahkan, benak kepalaku mencabik-cabikkan memoriam
Sungguh, jantung, paru-paru, dan cairan merah itu
Tercenung!
Atmaku sesenggukan
Asa, kasih sayang, dan ambisi direnggut waktu
Amparita, 30 Juli 2026