Hangat Perlahan Menghilang
Karya: Muhammad Fakhry MuhannaMalam ini, kita duduk dan berdiri melingkar tanpa banyak suara.
Api menyala bukan untuk membakar, tetapi untuk menemani pikiran yang terlalu ramai.
Di hadapan cahaya oranye ini, setiap orang menyimpan cerita tentang harapan yang pernah digenggam dan tentang mimpi yang akhirnya dilepas diam-diam.
Di antara hangat yang sederhana ini, mereka lupa, api unggun tak pernah rapi.
Ia bergetar dalam diam. Nyalanya tak selalu tenang. Dari ketidaksempurnaan itulah hangat lahir.
Di sela-sela kebisingan dunia, api ini seperti nyala kecil yang bertahan di tengah angin.
Tak meminta dipuji, hanya menolak padam.
Cahayanya cukup membuat malamku tak sepenuhnya gelap.
Kini, api mulai mengecil.
Kayu runtuh menjadi abu.
Aku memandangnya lama.
Lalu, aku tersadar.
Api tak pernah meratapi abu yang ditinggalkan. Ia hanya menyala selama yang ia mampu, memberi hangat pada malam, meski tahu dirinya tak akan abadi.
Nanga Pinoh, 29 Juli 2025