Rumah Tua
Karya: Riski Monno SariAku tak pernah tahu dan mendengar langkah seorang ayah, ia pergi sebelum namaku sempat belajar memanggilnya.
Tertinggal hanyalah sunyi, menggantung di dinding-dinding usia, sementara dua sosok tua memelukku dengan doa yang tak pernah letih, dan mengajarkan bahwa kehilangan bukan alasan untuk tertatih.
Kami hidup dari pagi tenang dan senja yang bersahaja di dalam rumah tua yang sederhana.
Nasi hangat, peluh, dan harapan menjadi hidangan paling setia.
Kesederhanaan dan kasih yang tak mengenal batas, hingga aku belajar, bahwa rumah tak dibangun oleh kehadiran yang sempurna, melainkan oleh cinta yang tetap memilih tinggal.
Pernah kutitipkan rindu pada langit yang terlalu luas, bertanya, mengapa sebagian anak memiliki pelukan, sedangkan aku hanya bayangan.
Namun waktu mengajarkanku satu rahasia, bahwa luka yang diterima dengan ikhlas akan berubah menjadi akar yang tak pernah gentar menghadapi badai.
Maka kutumbuhkan mimpiku dari retak yang pernah mematahkan hati.
Kubaca dunia dengan mata yang haus pengetahuan, kubiarkan kecewa menjelma kebijaksanaan, bukan dendam.
Aku tumbuh dengan harapan dan cahaya yang berhasil kutemukan di balik kegelapan.
Bukan sebagai anak yang ditinggalkan, tapi sebagai manusia yang ditempa oleh kasih paling sederhana.
Sosok ayah mungkin tak pernah kembali menggenapi cerita, namun kesederhanaan dan luka telah mengajarkanku arti menjadi manusia. Dan dari luka yang tak pernah benar-benar sembuh, aku tumbuh menjadi cahaya.
Sidrap, 23 Juli 2026