Pralaya
Karya: Risa AmeliandaKutulis namamu pada punggung mimpi,
seolah takdir dapat kubaca dari sana.
Kukira esok akan selalu menunggu,
hingga harap tumbuh tanpa curiga.
Lalu datang pralaya tanpa suara,
meremukkan musim yang belum sempat berbunga.
Tak ada petir, tak ada gemuruh,
hanya sukma yang perlahan kehilangan rumah.
Kupungut serpihan yang pernah kupanggil masa depan,
namun tak satu pun mengenali wajahku.
Barangkali yang mati bukan cita-cita,
melainkan aku yang terlalu percaya pada "nanti".
Kini aku berdiri di atas reruntuhan,
membiarkan angin menghafal seluruh namaku.
Sebab mimpi masih dapat dilahirkan kembali—
tetapi diriku yang dahulu, tak akan pernah kembali.
Depok, 13 Juli 2026