Masihkah Aku Berhak Menjadi Aku?
Karya: NYALA FEBRINEATI PRAMONOPernah ku simpan harap serapat benih dibalik musim,
hingga embun menggenggam ujung ilalang sebelum fajar.
Kupikir, beberapa hal akan tumbuh bila tak terlalu sering dipanggil namanya.
Mereka meminum seluruh keberanian ku,
menyebut langitku terlalu tinggi.
Katanya, aku belajar menunduk sampai leherku hafal bentuk tanah.
Orang-orang itu datang membawa lidah seruncing pagar,
ini lebih tajam daripada pintu yang dibanting angin.
Mengukur langitku dengan penggaris yang mereka patahkan sendiri.
Satu demi satu, mereka meniup padam sumbu di dadaku.
Asapnya masih jelas kudengar,
meski apinya tak lagi kulihat.
Barangkali anganku harus berfermentasi menjadi rupa lain,
biarlah.
Namun, satu tanyaku
masihkah aku bernama "aku", bila seluruh kehendak ku telah berganti bukan kendaliku?
Kalau begitu, aku akan lahir sekali lagi
meski harus mengubur nama yang mereka beri.
Situbondo, 25 Juli 2026