Tempat Pulang yang Katanya Rumah
Karya: NURUL APRILIANIAku datang dengan sepatu kotor
dan hati yang terlalu lelah.
Katanya rumah,
tempat untuk melepas semua.
Ternyata aku harus melepas diri terlebih
dahulu.
Menaruh marah di keset.
Menaruh tangis di kamar mandi.
Agar tidak ada yang mendengar.
Aku tumbuh bukan karena dipeluk,
tetapi karena dipaksa berdiri.
Aku tumbuh dari patah.
Luka ini kubawa perlahan-lahan.
Kujadikan ia akar agar aku dapat berdiri.
Mungkin nanti
aku akan memiliki rumah sendiri.
Yang pintunya tidak menghakimi.
Yang pelukannya tidak bersyarat.
Sampai saat itu tiba,
aku tetap pulang
sambil belajar menyembuhkan diri.
Sukabumi, 10 juli 2026