Dari Retakan Menuju Cahaya
Karya: Nur Fadhilatun NisakAku pernah menjadi langit yang kehilangan senja,
tempat badai bersembunyi di balik warna yang pudar.
Aku menyimpan ribuan luka dalam diam,
menjahit tangis agar tak terlihat oleh dunia.
Sebab ada perih yang memilih menjadi rahasia,
ada kecewa yang tumbuh tanpa suara.
Dan aku hanya mampu bertanya kepada malam,
apakah hati yang hancur masih pantas berharap.
Aku pernah menjadi kaca yang jatuh dari ketinggian,
pecah menjadi serpihan yang tak lagi mengenal bentuk.
Setiap retakan membawa kisah,
setiap luka meninggalkan jejak.
Namun waktu tidak datang untuk menghapus segalanya,
ia datang untuk mengajarkanku menerima.
Bahwa tidak semua yang patah harus berakhir,
sebab ada keindahan yang lahir setelah ditempa.
Dari celah luka, aku menemukan cahaya.
Dari air mata, aku menemukan keberanian.
Dari kehilangan, aku belajar satu hal:
bahwa diriku masih memiliki alasan untuk bertahan.
Kini aku tidak lagi memusuhi masa lalu,
karena ia adalah guru yang paling sunyi.
Ia mengajarkanku arti menjadi kuat,
tanpa harus kehilangan lembutnya hati.
Aku berjalan menuju fajar yang baru,
membawa luka bukan sebagai beban,
melainkan sebagai bukti
bahwa aku pernah berjuang.
Sebab aku percaya,
retakan bukanlah akhir dari kehancuran.
Ia hanyalah pintu kecil,
tempat cahaya menemukan jalannya pulang.
Dan jika suatu hari dunia bertanya,
"Bagaimana kau masih mampu berdiri?"
Akan kujawab dengan tenang:
Karena aku tidak dibentuk oleh luka yang menjatuhkanku,
tetapi oleh keberanian untuk bangkit setelahnya.
Aku bukan seseorang yang tak pernah retak,
aku adalah seseorang yang belajar bersinar
dari setiap pecahan yang pernah menyakitiku.
lamongan, 15 juli 2026