Menjahit Retak Menjadi Sayap
Karya: NUR EFNITA SARIDahulu, aku adalah cawan yang retak dan hampa,
Menampung air mata yang tumpah tanpa jeda.
Setiap luka adalah goresan yang bernanah,
Membekas dalam, menjadikanku payah.
Namun, dalam sunyi yang paling pekat itu,
Kutemukan benih yang merindukan hidup.
Sebab dari tanah duka, akar mulai menjalar,
Menyerap kesedihan, mengubahnya menjadi pilar.
Kini, aku bukan lagi cawan yang rapuh,
Melainkan pohon yang kokoh, menghunjam teduh.
Setiap dahan adalah kekuatan yang baru,
Dan setiap daun adalah kisah tentang masa lalu yang luluh.
Luka yang menganga telah berganti tunas,
Menjadi bukti bahwa kehidupan tak pernah menukas.
Aku tumbuh, bukan meski ada luka, melainkan karenanya,
Menjadi diri yang utuh, merangkul bahagia.
KERINCI, 10 JULI 2026