Mekar di celah retak
Karya: Nisa Sani AgustinAda musim ketika langit enggan menyebut namaku. Mimpi-mimpi luruh seperti daun yang lupa arah pulang, sementara dadaku menyimpan hujan tanpa bunyi.
Aku pernah mengutuk retak, menganggapnya alamat bagi segala yang telah usai. Namun waktu, dengan tangan yang tak kasatmata, menanam benih di celah yang kutakuti.
Perlahan, akar keberanian merambat menembus tanah kecewa. Luka tidak lagi meminta air mata, melainkan kesediaan untuk menerima diri yang tak lagi sama.
Kini kupahami, bunga tak pernah lahir dari tanah yang selalu utuh. Ia tumbuh setelah gelap memeluk benih, setelah hujan selesai mengajarkan sabar kepada akar.
Maka kubiarkan bekas itu tinggal, bukan sebagai duka, melainkan jalan pulang menuju diriku yang akhirnya belajar mekar.
Ciamis, 28 Juli 2026