Merajut Puing Jiwa
Karya: Nafisah Reza AlsamiKetika badai meremukkan seluruh tangkai impian, jiwa terhempas dalam sunyi tanpa tepian.
Goresan takdir menyisakan perih yang menganga, merampas senyum, menyisakan duka yang menyengat dada.
Namun, air mata bukanlah tanda kita binasa, melainkan pembasuh luka yang penuh mukjizat rasa.
Di balik perih yang menyayat secara perlahan, lahir sebentuk keteguhan yang menolak kekalahan.
Kini, dari puing kehancuran yang sempat runtuh, kuncup ketabahan mulai bangkit dan tumbuh.
Luka lama berubah menjadi akar yang mengikat, menuntun raga berdiri kokoh, kembali hebat.
Medan, 12 Juli 2026