CETAK BIRU YANG BASAH
Karya: MuhsinDua puluh tahun sudah aku menggambar garis,
mengukur sudut jendela dan pintu masa depan.
Garis dan bentuk kususun begitu rapi
di atas tumpukan kertas yang baru.
Kugambarkan pintu dan jendela
untuk menyambut udara yang belum lahir.
Di sela goresan yang bersenandung itu,
aku mengintip langit kelabu dari jendela kamarku.
Lalu angin berembus, mengantar bau tanah basah
dan langit yang mendadak bocor tanpa permisi.
Kertasku basah, penaku gemetar.
Oleh-oleh dari langit mengubah lembar yang baru
menjadi kerutan dan genangan tak berbentuk.
Kusimpan tumpukan kertas basah itu di bawah meja,
lalu keluar menghadapi langit yang belum reda.
Tanpa payung, tanpa cetak biru,
kubiarkan rintik-rintik itu mengeja tubuhku yang baru.
suralaga, 21 Juli 2026