Pupuk Duka
Karya: Ayu Nathasa YudityaDi pelataran dada yang hancur berkeping,
ku makamkan sunyi yang paling asing.
Tangis yang jatuh tak lagi kusesali,
ia menyiram tanah tempat hati mati.
Pernah kuanggap duka adalah racun,
yang merengut senyum berlarut tahun.
Namun di dalam gulita yang paling dalam,
sakit meresap pelan menjadi tembang.
Kini ku seduh pahitnya rasa kecewa,
ku jadikan nutrisi bagi jiwa yang lelah.
Sebab dari bangkai harapan yang runtuh,
ada keberanian baru yang mulai tumbuh.
Duka tak lagi jadi belenggu malam,
tapi pupuk subur di tanah yang dalam.
Ia mekar dari perih yang merayap,
menjelang pagi dengan kepak sayap.
Pasuruan, 21 Juli 2026