Litani Air Yang Terasing
Karya: Mayza Cheverly S.M.Pernahkah kau menerka remah ingatan seorang bayi,
yang tumbuh di dekap rahim tanpa bayang ayah yang utuh?
Saat tangis dituduh sebagai beban yang bising,
dan jemari kecil harus mengeja perihnya kemelaratan,
di sudut sunyi,
tanpa lengan sahabat yang menopang,
tanpa telinga yang sudi menerjemahkan sunyi.
Kuminum pekat itu semua dalam diam,
tak perlu berkobar menjadi api demi sepasang mata manusia.
Kupendam lumat setiap luka yang menganga,
menjadi riak air yang terasing di perut bumi.
Ketika sayap-sayap merpati mengepak tinggi menjulang langit,
aku adalah mata air yang terpenjara di kedalaman sepi.
Adakah jiwa yang sudi menengok ke bawah?Menatap hidup yang sebenarnya berutang pada air yang tersembunyi.
Namun, aku tak lumat oleh pengabaian.
Di atas sajadah pasrah, lututku bersujud pada sang Penguat.
Maka Dia pecahkan bendungan sunyi ini,
mengubah air yang terpendam menjadi air bah yang meluap.
Aku bangkit,
meretas tanah,
dan memeluk cahayaku sendiri.
Jakarta, 11 Juli 2026