Karya: Khaylila Dean Nadhifa
Aku lahir sebagai halaman pertama, dibaca semua orang sebelum kisah selesai. Mereka memanggilku teladan, padahal tak pernah mengajariku cara berdiri. Di rumah yang retaknya disembunyikan senyum, aku menjahit diri dengan benang kesabaran. Tangisku kupeluk sendiri, sementara pundakku dipenuhi harapan yang bukan pilihanku. Aku tumbuh bukan karena dunia ramah, melainkan karena luka mengajariku bertahan. Setiap kecewa menjadi akar, setiap air mata menjelma hujan yang menyuburkan keberanian. Kini aku mengerti, tidak semua bunga lahir di taman yang indah. Sebagian mekar dari tanah yang patah, namun tetap memilih menghadap matahari, agar kelak menjadi cahaya bagi mereka yang pernah kehilangan arah.
Bogor, 19 Juli 2026