Biografi Sebuah Koma
Karya: Heru Sumarno, S.S., Gr.Aku lahir dari retak
yang menolak menjadi titik.
Sejak itu
aku menghuni tepi kalimat—
sebuah koma
yang memilih tetap bernapas.
Bukan tinta yang menulisku,
melainkan luka
yang menolak tamat.
Di antara halaman-halaman gugur,
huruf-huruf memungut sunyi,
merajut serpihnya
menjadi bahasa.
Di situlah kusadari:
tak ada kalimat
yang benar-benar selesai.
Setiap retak
membuka celah
agar makna berakar.
Aku bukan jeda
karena takut melangkah.
Aku tinggal
hingga luka
berani menyebut namanya sendiri.
Ketika seluruh titik
berlomba mengaku selesai,
aku tetap koma.
Sebab kehidupan
lebih sering bertumbuh
di sela-sela
daripada di akhir.
Dan jika kelak
aku tampak utuh,
ketahuilah—
aku bukan sembuh.
Aku hanyalah retak
yang akhirnya belajar
menulis dirinya sendiri.
Malang, 24 Juli 2026