Pada Tanah yang Pernah Retak
Karya: Hanifah AisyifaPada tanah yang pernah retak,
diriku menyemai sebutir harapan dengan jemari yang masih gemetar.
Langit memeluk mendung yang enggan berlalu,
sementara waktu mengajarkan bahwa tidak setiap kehilangan harus tinggal dalam nestapa selamanya.
Ada sunyi yang diam-diam menumbuhkan keberanian.
Ada duka yang perlahan melahirkan keteguhan.
Luka memang tidak pernah benar-benar menghilang.
Ia tinggal sebagai jejak yang mengingatkan betapa rapuhnya manusia.
Di balik setiap rekah, tersimpan kemungkinan untuk utuh kembali.
Dari setiap rekah, akar-akar kesabaran menjalar tanpa suara,
memeluk bumi yang dahulu nyaris menyerah.
Kini, saat fajar menyentuh wajahku,
diriku memahami bahwa mekar bukanlah tentang hidup tanpa duka.
Mekar adalah keberanian untuk tetap menjadi bunga.
Meski tumbuh pada tanah yang pernah bersahabat dengan nestapa,
diriku memilih tetap mekar.
Grobogan, 24 Juli 2026