KRONIK TULANG YANG TUMBUH KEMBALI
Karya: Gusti Ayu Mirah MahardaniDi atas kertas rontgen, retak ditulis sebagai akhir.
Namun tulang memiliki ingatan akan bentuk pertama,
saat masih lunak di rahim, sebelum beban menjatuhkan,
sebelum patah merambat seperti sungai di musim kemarau.
Dari celah yang hancur, benang-benang kapur menjahit.
Bukan untuk kembali utuh, tetapi untuk menjadi lebih padat.
Tulang tahu bekas retak adalah titik terkuatnya,
sebab ia telah dilatih oleh patah berkali-kali.
Aku menulis kronik ini di sela gips yang mengering.
Kutulis dengan jari yang masih belajar menggenggam,
dengan kuku yang tergores oleh kerasnya waktu.
Setiap rekah kucatat yang pertama berjudul kehilangan,
yang kedua berjudul pengkhianatan, yang ketiga tanpa nama,
karena terlalu dalam untuk disebut, terlalu tajam untuk dilukis.
Dari semua patahan itu, kini aku meraba bentuk baru
kasar di permukaan, namun tidak pernah remuk lagi.
Aku menjadi berat di tempat yang dulu kosong,
menjadi utuh di tempat yang dulu tercabik.
Malam ini tulang-tulang berbisik dalam irama sendi,
dalam bunyi renyah yang hanya aku mengerti.
Aku sadar pertumbuhan bukanlah kembali seperti dulu.
Ia adalah menjadi keras di tempat yang pernah hancur,
menjadi utuh dengan cara yang tidak pernah kukenal,
menjadi kuat dengan luka yang tidak pernah kuminta.
Dan tetap berjalan meski langkah memiliki suara retak
suara yang mengetuk tanah seperti doa,
seperti pengakuan bahwa aku masih di sini,
masih utuh meski telah berkali-kali patah,
masih tumbuh meski tanah di bawahku terus bergetar.
Kronik ini bukan akhir.
Ia adalah awal dari tulang-tulang yang memilih
untuk tumbuh kembali, lebih padat dari sebelumnya.
Denpasar, 28 Juli 2026