Menyusun Cahaya Dari Perih
Karya: Fitriatul MuslimahDi bawah langit yang enggan menyapa,
aku pernah menjadi tanah tanpa bunga.
Air mata jatuh seperti musim yang lama,
mengubur mimpi dalam sunyi yang fana.
Luka datang tanpa mengetuk pintu,
menggores jiwa dengan bahasa pilu.
Namun waktu mengajariku satu hal,
bahwa rapuh bukan akhir yang kekal.
Aku belajar memeluk setiap retak,
menjahit harapan yang sempat tercerai.
Sebab akar tak pernah takut gelap,
ia justru tumbuh dalam tanah yang damai.
Tak semua kehilangan adalah nestapa,
sebagian hadir sebagai guru kehidupan.
Yang patah tak selalu kehilangan makna,
ia hanya sedang belajar menjadi keteguhan.
Kini aku berjalan dengan bekas yang nyata,
bukan untuk disembunyikan dari dunia.
Luka telah menjelma cahaya,
menuntunku pulang pada diri yang sebenarnya.
Maka bila hidup kembali menguji,
aku tak lagi gentar menghadapi perih.
Sebab bunga tak pernah lahir tanpa duri,
dan mentari tak datang tanpa gelap yang pergi.
Aku adalah bukti yang tak perlu dipuja,
bahwa hancur bukan berarti binasa.
Sebab dari setiap luka yang pernah ada,
manusia belajar tumbuh menjadi dirinya.
Surabaya, 20 Juli 2026