Akar Harapan
Karya: Erika Wahyu RahmannisaDi beranda rumah yang diterangi lampu sederhana,
aku menanam doa di tanah sunyi penuh makna.
Dari retakan hidup yang pernah melukai langkah,
tumbuh akar harapan yang menolak menyerah.
Seragam lusuh tak mampu memadamkan cahaya,
sebab mimpi lebih besar daripada segala kecewa.
Ayah menyimpan lelah dalam diam yang panjang,
Ibu menyembunyikan cemas di balik senyum yang tenang.
Setiap halaman buku menjadi benih perjuangan,
tumbuh meski badai sering menguji ketahanan.
Aku merawat luka hingga berubah menjadi kekuatan,
menjadikannya cahaya menuju masa depan.
Bukan harta yang ingin kuraih dengan bangga,
melainkan senyum orang tua saat melihatku berhasil.
Sebab dari luka yang pernah kami genggam bersama,
kini tumbuh akar harapan yang mekar menjadi cita-cita.
Brebes, 27 Juli 2026