seseorang yang tertinggal di hari itu
Karya: Diana WulandariAku pernah percaya, bahwa semesta menyimpan satu kursi yang diam-diam telah diukir dengan namaku.
Maka kutitipkan usia kepada langkah-langkah yang tak pernah mengenal lelah. Kujahit siang dengan pengorbanan, kutambal malam menggunakan doa, hingga telapak tanganku lebih akrab dengan luka daripada kata menyerah.
Orang-orang hanya melihat betapa tegaknya aku berdiri. Mereka tidak pernah mendengar betapa nyaring tulang-tulang harapan retak satu demi satu setiap kali kenyataan menggenggam leher mimpiku.
Lalu hari itu datang.
Tidak membawa petir.
Tidak pula angin ribut.
Hanya beberapa kalimat, namun cukup untuk merobohkan seluruh langit yang selama bertahun-tahun kubangun dari keyakinan.
Sejak saat itu, matahari tetap terbit, tetapi tidak lagi singgah di dadaku.
Aku berjalan, namun rasanya seperti menyeret sebuah kota yang telah menjadi abu. Aku tersenyum, sementara di dalam dada ribuan burung kehilangan arah dan saling membentur, hingga sayap-sayapnya gugur menjadi hujan yang tak pernah selesai.
Mimpiku tidak mati.
Ia dikuburkan hidup-hidup, bersama namaku, bersama seluruh versi diriku yang pernah percaya bahwa ketulusan selalu menemukan rumah.
Kini, jika kau melihatku masih berdiri, jangan pernah mengira aku telah baik-baik saja.
Sebab yang masih bernapas hanyalah tubuhku.
Sedangkan aku...
telah menjadi seseorang yang tertinggal di hari itu
hari ketika mimpiku memilih runtuh lebih dahulu daripada masa depanku.
Rupat, 24 juli 2026