Karya: Balqis Fika Salma
Tak ada pohon
yang lahir dengan batang
setegak doa.
Ia pernah diguncang angin,
dipatahkan musim,
dan dipaksa belajar
mengenal sunyi.
Pada kulitnya,
waktu meninggalkan
lingkar demi lingkar,
bukan sekadar penanda usia,
melainkan arsip
dari badai yang berhasil dilewati.
Pernah rebah
hingga langit terasa
lebih dekat daripada esok.
Pernah percaya
bahwa gugur
adalah nama lain
bagi selesai.
Lalu bumi mengajarkan
bahasa yang tak dipahami hujan.
Bahwa akar
tidak tumbuh ke bawah
karena takut,
melainkan karena tahu
ke mana harus bertahan.
Sejak itu
tak ada lagi permintaan
agar luka dilupakan.
Ia tinggal,
menjadi lingkar
yang diam-diam
menebalkan batang.
Sebab pohon yang menjulang
bukan pohon
yang tak pernah retak.
Melainkan pohon
yang mengubah
setiap retaknya
menjadi alasan
untuk tetap tumbuh.
Pekalongan, 19 Juli 2026