TUMBUH DARI LUKA
Karya: BALQIS FARHANAHAku menatap langit sore, menutup rasa kemudian menghadapi penyesalan yang akhirnya terjadi. Angin bertiup pelan bersiul di samping telingaku, dedaunan bergoyang mengikuti lirikan serdadu angin yang membahana. Kapankah aku bisa berhenti berekspektasi kepada makhluk sialan itu?
Perasaanku hanyut, tak bisa bernapas segar. Tuhan, aku ingin keluar dari masalah ini.
Aku selalu salah merespons bahwa rasa yang kusimpan berakhir menciptakan ruang luka yang menghancurkan keseharianku. Bodohnya aku mencintai rasa dengan luka yang tak pernah terbalaskan.
Waktu kini menjawab bahwa penyesalan yang terjadi membuat kita belajar banyak tentang peran dan harapan.
Tidak semua harus dianggap kenyataan yang menjanjikan bila suatu waktu itu hancur. Kita tak kalah lagi, semua yang terjadi tetaplah terjadi. Harapan tidak akan membuat kita kekal abadi.
Bogor , 12 juli