Karya: Arindi Erliyana Fandholi
Halo, ini aku yang baru,
bukan lagi seseorang
yang tenggelam dalam luka.
Dulu, aku menganggap
luka adalah bagian dari hidupku
yang tak akan pernah hilang.
Namun, kini
aku mampu berdiri tegak
tanpa membiarkannya menguasai diriku.
Saat itu, ketika masalah menghampiri,
aku merasa segala jalan telah tertutup.
Batinku seakan terpenjara,
dan bayang-bayang ketakutan
terus mengikuti setiap langkahku.
Saat itu, aku merasa warna duniaku menjadi gelap.
Keindahan dunia pun sirna di mataku.
Makanan selezat apa pun terasa seperti bongkahan kaca saat kutelan.
Bahkan es krim favoritku pun terasa pahit di lidahku.
Aku tak lagi menyesali
luka yang pernah menghampiri.
Justru darinyalah aku belajar
bahwa setiap air mata,
setiap kecewa,
dan setiap jatuh
perlahan membentuk diriku.
Kini, aku mengerti,
luka bukanlah akhir dari perjalanan,
melainkan jalan
yang menuntunku menjadi
aku yang baru.
Tuban, 19 Juli 2025