Lilin Malam
Karya: Wahyu HermawanPanas api yang menari di tangan memantulkan bayangan yang segelap malam namun terang di hati
Bunyinya suara malam saat ramainya tawa dan tangis namun yang kudengar hanyalah angin yang menghembus setiap helai rambutmu
Senggang waktu sebelum bulan tepat berada di atas kepala kita, lilin kita terus meleleh membawa pesan-pesan yang tak tersampaikan
Apa yang diucapkan oleh dirimu tak dapat tertulis dalam pikiranku namun hangatnya lilin mengingatkanku kepada kata manis yang kau ucapkan
Lelehan lilin itu tumpah di jari manisku dan membakar rasa manis menjadi sesuatu yang pahit kupeluk
Karena pada dasarnya lilin harus pergi dan menghilangkan setiap kata yang kau berikan
Sebagaimana diriku selalu meleleh ketika membayangkanmu di manisnya suasana malam itu
Perlahan demi perlahan aku harus melupakanmu dan aku akan pergi dari hangatnya lilin malam dan meninggalkan pesan dan hangat dirimu ketika bersamaku.
Kebumen, 15 Oktober 2026