Ketika Malam Merindukan Namamu
Karya: Sepia Siti RamayaLentera di pangkuan malam yang enggan menutup mata.
Jemariku menari-nari dalam alunan melodi yang tercipta dari imaji. di antara sunyi yang panjang, kata demi kata mulai lahir dari sesuatu yang sejak tadi diam-diam memenuhi dada.
Rindu.
Entah mengapa, malam selalu berhasil menjadi bagian dari sesuatu yang aku harapkan kehadirannya.
Ia tak berisik, tak memihak.
cukup menjadi pendengar bagi segala hal yang tak sanggup kusampaikan.
Kepadanya, aku menitipkan namamu, meski hanya melalui aksara.
Sebab barangkali, hanya malam yang tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tak sedang berada di hadapan mata.
Kata demi kata terus menyulam dirinya menjadi aksara, menjelma prosa, lalu tumbuh menjadi diksi-diksi indah yang sarat makna.
Aku menulis tentangmu, bukan karena aku pandai merangkai kata, melainkan karena ada rindu yang terlalu penuh jika hanya kusimpan dalam diam.
Maka malam menjadi saksi.
Bahwa di antara lembar-lembar yang penuh tulisan, ada namamu yang tak pernah benar-benar sanggup kutuliskan.
Hanya kusembunyikan di antara jeda, di balik kalimat, dan di ujung doa yang tak pernah selesai.
Rasanya hari sudah cukup sampai di sini.
Biarkan malam menyimpan tulisan ini.
Biarkan angin membawa sisa rinduku ke tempat yang tak kuketahui. dan jika entah bagaimana ia sampai kepadamu, semoga kau tahu—
ada seseorang yang malam-malamnya masih penuh dengan namamu.
Kali ini, berbaik hatilah kepada diri.
Pejamkan mata.
Sebab mungkin, satu-satunya tempat di mana rindu ini bisa benar-benar menemukanmu adalah dalam mimpi.
Tasikmalaya, 01 Oktober 2026