Setelah Ayah Pergi
Karya: Resmalina paneHari itu, aku menemani Ayah berjuang melawan penyakitnya.
Aku selalu berusaha mendukung dan meyakinkan untuk tetap semangat.
Setiap hari aku merawat Ayah
dengan harapan bahwa Ayah
pasti bisa sembuh, dan semuanya akan kembali seperti dulu.
Setiap hari aku selalu mengajak Ayah berbicara, bercerita mulai dari hal-hal penting sampai ke cerita waktu masa-masa kecilku.
Rasanya, aku ingin menceritakan semuanya kepada Ayah selagi masih ada waktu.
Namun, setelah beberapa waktu aku merawatnya, Ayah pergi meninggalkan kami selamanya, Aku memang sangat sayang Ayah, tetapi Tuhan ternyata lebih menyayangi Ayah.
Jujur, sampai sekarang rasa iklas itu belum sepenuhnya ada. Hampir setiap malam aku selalu menyempatkan diri untuk menangis karena begitu merindukan Ayah.
Dulu, Ayah adalah orang yang paling bersemangat ketika berbicara tentang pendidikan. dan sekarang, aku sudah kuliah,
Ayah. tapi sayangnya, Ayah pergi lebih dulu sebelum bisa melihatku sampai di titik ini.
Hati itu, aku berdiri di samping Ayah dengan hati dan tangan yang gemetar. Aku melihat Ayah sudah terbaring dan tidak lagi bernyawa.
Aku menggenggam tangan Ayah yang terasa begitu dingin. Saat itu, aku teringan bagaimana duku tangan Ayah menggenggam tangan ku ketika kami berjalan bersama.
Tanganku gemetar saat menyentuhnya. Rasa dingin itu seperti menjalar sampai ke dada. Saat itu aku benar-benar tidak tau harus berkata apa. Aku hanya terdiam dan tidak mampu menjelaskan apa yang sedang kurasakan.
Sejak kejadian itu, rasanya ada dua orang yang pergi di hari yang sama, Ayah dan sebagian dari diriku. Ragaku masih berada di sini, tetapi rasanya sebagian jiwaku sudah ikut pergi tertanam bersama Ayah.
Bohong kalau aku bilang sudah ikhlas.
Bohong kalau aku bilang sudah tenang.
Aku hanya belajar terlihat baik-baik saja agar orang lain mengira aku memang benar-benar baik-baik saja.
Sejak hari itu, aku belajar berdamai dengan rasa rindu, rindu yang tidak pernah benar-benar selesai, rindu yang sekarang hanya bisa kusampaikan melalui doa dan air mata.
Ayah, aku mungkin tidak bisa berbicara langsung denganmu seperti dulu, tapi aku akan tetap bercerita melalui doa, berharap setiap doa yang aku kirimkan bisa sampai kepadamu.
Ayah, kalau ada kehidupan sekali lagi, tolong jadi ayah ku lagii,
Aku rindu ayah, sampai sekarang, dan mungkin akan selalu begitu.
Panyabungan, 01 Oktober 2026