Kelereng yang Tak Pernah Pulang
Karya: Rahmat HidayatDi antara kampung,
kelereng kecil pernah berguling,
mengejar lubang, mengejar menang,
juga mengejar sore
yang kami kira tak akan berakhir.
Setiap libur tiba,
suara teman mengetuk pagar rumah.
“Keluar!”
Dunia terasa hanya seluas halaman,
dan bahagia cukup dengan kaki telanjang.
Kami membangun rumah-rumahan
dari kardus, tanah, dan khayalan,
berpura-pura menjadi dewasa
tanpa tahu dewasa akan membawa kami
sejauh ini.
Lalu suara Ibu memanggil,
“Pulang! Tidur siang!”
Dulu, kami berlari menjauh.
Kini, suara itu justru
menjadi suara yang paling ingin kami dengar.
Pagar masih berdiri,
tetapi masa kecil telah pergi.
Kelereng itu entah di mana,
namun kenangan tentangnya
tetap berguling di dalam dada.
Gorontalo, 01 Oktober 2026