Rindu pada Bayang
Karya: Naila RamadhaniDulu aku adalah pemain pinggiran, Menikmati sunyi tanpa beban tuntutan. Kini sorot lampu utama menikam tajam, Membawa derita yang tak pernah kubayangkan. . Naskah utama di tanganku terasa berat, Upah tak sepadan, langkah pun terasa sesat. Di depan kamera, lawan main tersenyum manis, Di belakang layar, ucapnya bagai racun yang mengiris. . Hanya dua jam waktu untukku bernapas, Menghapus rias, namun luka batin tak kunjung lepas. Aku merindukan masa menjadi figuran, Saat tak ada tekanan, hanya ada ketenangan. . Betapa ingin kukembali ke peran sampingan, Menjadi pelengkap tanpa harus jadi tumpuan. Terlalu berat mahkota yang kini kupakai, Aku rindu menjadi bayang, yang tak pernah di tagih nyali.
Banjarnegara, 9 Oktober 2026