Penantian dermaga rapuh
Karya: Naifa dini candrawatiMalam merajut jelaga pada dinding dada,
menenun bayangmu menjadi duri yang menusuk sukma.
Rindu ini seperti belati tumpul yang merajang sunyi,
meremukkan pantulan rembulan di telaga air mata.
Aku melangkah di atas pecahan cermin kenangan,
mengejar jejakmu yang kian lebur ditelan waktu.
Dua telapak tanganku menjelma dermaga rapuh,
menanti perahumu yang terombang-ambing di samudra duka.
Jika saja, waktu masih sudi untuk memberiku kesempatan
ingin sekali aku kembali memeluk ragamu,
ingin sekali aku menenangkan badai mu
hal tak masuk akal, yang aku tau aku tak punya kesempatan
hey wahai raga yang selalu kurindukan,
jika perahu mu terombang-ambing
jika jalanmu berbadai dan penuh rintangan
Dermaga ini masih sama seperti saat kau tinggalkan
Menanti dalam rapuh dan sunyi kepulangan mu
dan akan selalu, selalu begitu merindukan sosokmu
Biarlah ombak membawa sisa potongan rapuh kayu yang patah,
sebab setelah penantian ini usai,
aku hanyalah dermaga rapuh yang merelakan air laut menyeretku hingga hancur.
Subang, 4 oktober 2026