Halaman yang Salah
Karya: Muhammad ReyfanoKita pernah menjadi dua bait
yang bertemu di halaman yang salah;
saling membaca hingga larut,
lalu dipisahkan sebelum sempat selesai.
Kau tidak pergi sepenuhnya,
namun tak lagi dapat kupanggil pulang.
Kau tinggal sebagai gema
di ruang-ruang sunyi yang pernah kita isi bersama.
Aku telah berkali-kali menyuruh hati berhenti,
namun ia selalu pulang kepada namamu.
Betapa kejamnya ingatan:
ia menyimpan yang ingin kulupakan,
dan menghapus hari-hari yang ingin kupertahankan.
Mungkin memang bukan kita yang salah;
barangkali semesta hanya terlalu pandai
mempertemukan dua hati
tanpa pernah berniat menyatukannya.
Kini aku belajar melepaskan,
bukan karena rasa itu telah mati,
melainkan karena aku mulai mengerti:
ada cinta yang tidak ditakdirkan untuk dimiliki,
hanya untuk dikenang—
lalu perlahan dilupakan,
meski hati harus patah berkali-kali untuk melakukannya.
Bukittinggi, 30 September 2025