Melarungkan Jangkar
Karya: Kezia Eleanor SusantoAku melepaskan jangkar yang dulu kautambatkan,
di dadaku yang paling rawan.
Tidak dengan amarah,
hanya dengan membiarkan laut
lupa cara memulangkanmu.
Namamu kini kusimpan sebagai abu
di dasar cangkir yang tak lagi kusesap.
Tak pahit, tak manis —
hanya endap yang enggan senyap.
Kau bukan lagi doa,
hanya sisa eja yang tertinggal di bibir
setelah ia selesai kupanjatkan.
Aku tidak lagi mencari bayangmu
di antara lampu-lampu kota yang terlambat padam.
Kakiku sudah hafal jalan pulang
yang tidak melewati namamu.
Telah kutanam senyap di antara detak,
agar jantung tak lagi berdebar
oleh kebiasaan lama memanggilmu.
Jika rindu itu hujan,
biarlah ia jatuh ke tanah lain.
Tanahku sudah belajar
menumbuhkan bunga
tanpa menyebut musimmu.
Dan jika kelak kau tanya,
apakah aku masih mengingat?
Aku akan tersenyum —
sebagai seseorang yang pernah tenggelam,
namun kini tahu cara mengapung.
Mataram,28 September 2026