Di Ujung Malam yang Sekarat
Karya: Ivio HerlinaKucabik paksa bayang-bayang dari pembuluh darahku,
menolak mati meski nadi telah lama disumbat abu.
Demi sudut kepala yang sengaja dibakar,
biarkan pilar kewarasan runtuh dan busuk di dasar kamar.
Lihatlah,
panggung mati merawat udara kosong,
tempat tawa silam bertukar gema bohong.
Mencoba abai, bagai menjahit kulit dengan jarum berkarat,
kudustakan luka permukaan bernanah paling barat.
Waktu melengkung patah di ujung malam yang sekarat,
mengikis sebuah bayangan yang pesonanya terlalu pekat.
Mengapa keharuman yang telah melipur jadi abu
masih lihai menyusun diri jadi belenggu?
Jika esok jejak di kepala rata dengan tanah,
cermin tak lagi memantulkan rindu berdarah.
Maka kubiarkan sisa diri lebur jadi ketiadaan yang tuntas,
mengeja sunyi tanpa harus mengemis kewarasan.
Selamat tinggal pada perih kehilangan ruang,
pada nama yang perlahan mati lalu dibuang.
Riau, 20 Oktober 2026