Jejak Sunyi di Ujung Malam
Karya: ENDANG ZENI AMILIADi balik jendela yang diguyur hujan deras,
aku menyusun kembali bayang-bayang yang mulai pudar.
Suaramu kini hanya gemuruh pelan di dada,
memanggil nama yang kerap terpapar sepi.
Setiap detik bergerak begitu lambat tanpa hadirmu.
Rindu ini bukan lagi sekadar getaran raga,
melainkan luka yang menganga tanpa kepastian sembuh.
Aku memeluk udara dingin yang menyisa,
mengharap hangat usapan jemarimu mengusir kelam.
Namun malam hanya menyisakan keheningan panjang.
Kursi kosong di hadapanku menjadi saksi bisu,
betapa dahsyatnya kehampaan yang kau tinggalkan.
Dalam bisikan doa yang terbata-bata,
aku merawat kenangan agar tidak mati.
Sebab hanya di sana,
kita masih bisa saling menatap tanpa terpisah jarak.
Tanjung Medan, 1 Oktober 2026