Karya: Dewi Revani
Di laci kayu yang berdebu,
masih kusimpan surat dengan namamu—
kertasnya menguning, tintanya memudar,
namun kenangan tak semudah itu pudar.
Dahulu, kau adalah halaman
yang selalu ingin kubaca berulang kali.
Kini, setiap bait tentangmu
menjadi gema dari musim yang telah pergi.
Di antara sunyi dan cahaya senja,
namamu perlahan kehilangan tempatnya.
Jam tua di dinding terus berdetak,
mengingatkanku bahwa waktu tak pernah menunggu.
Maka perlahan, kulepaskan namamu
dari doa-doa yang pernah menyebutmu.
Bukan mudah membiarkanmu menjadi masa lalu,
namun hati pun lelah menggenggam bayangmu.
Bukan karena aku berhenti mencintai,
melainkan karena akhirnya kupahami:
ada kenangan yang cukup dikenang,
tanpa harus kembali diperjuangkan.
Biarlah kisah kita tinggal sebagai cerita,
yang pernah indah, lalu selesai dengan tenang.
Kini aku belajar berjalan tanpa menoleh, membawa damai, bukan penyesalan, menuju hari yang lebih tenang.
Cirebon, 3 Oktober 2026