Wakafa Billahi Syahida
Karya: Ahmad RohmatullohDulu,
aku hanya mengenalmu dari sebuah nama.
Nama yang tertulis
di antara nama-nama pemenang
di dinding pesantren.
Aku tidak mengenalmu,
tidak pernah berbicara denganmu,
bahkan tidak pernah berpikir
bahwa suatu hari
namamu akan menjadi begitu berarti.
Sampai akhirnya,
Allah mempertemukan kita
dengan cara yang sederhana.
Awalnya hanya tentang kitab,
tentang hafalan,
tentang kehidupan di pesantren.
Lalu kita mulai bercerita,
tentang mimpi,
tentang masa depan,
dan tentang bagaimana
sebuah perasaan harus tetap
berjalan bersama ketaatan.
Hari demi hari berlalu.
Kita pernah saling menyemangati,
saling mengingatkan untuk belajar,
saling mendoakan,
dan saling menjadi alasan
untuk terus menjadi lebih baik.
Namun ternyata,
tidak semua pertemuan
ditakdirkan untuk selalu bersama.
Ada saatnya
seseorang harus pergi
untuk mengejar cita-citanya.
Dan aku pun pergi.
Meninggalkan pesantren,
meninggalkan guru-guru,
meninggalkan teman-teman,
dan meninggalkan seseorang
yang sudah menjadi bagian
dari cerita hidupku.
Sejak saat itu,
kita dipisahkan oleh jarak.
Dulu kita bisa bertukar kabar
dengan mudah.
Sekarang,
kita belajar untuk tidak terlalu sering berbicara.
Bukan karena sudah tidak peduli.
Bukan karena rasa itu hilang.
Tetapi karena kita sadar,
ada cita-cita yang harus diperjuangkan.
Ada ilmu yang harus dikejar.
Ada masa depan yang tidak boleh dikorbankan
hanya karena rindu.
Dan ternyata,
rindu memang seperti itu.
Kadang kita ingin berbicara,
tetapi memilih diam.
Kadang ingin bertemu,
tetapi memilih melanjutkan perjalanan.
Kadang ingin mengatakan,
“Aku merindukanmu,”
tetapi hanya mampu mengatakannya
dalam doa.
Aku belajar dari jarak:
Bahwa mencintai seseorang
tidak selalu berarti harus dekat dengannya.
Kadang,
mencintai berarti membiarkannya
mengejar impiannya.
Kadang,
peduli berarti tidak mengganggu
langkahnya.
Dan kadang,
rindu adalah perasaan
yang cukup Allah saja
yang mengetahuinya.
Jika suatu hari
kita dipertemukan kembali,
aku berharap
kita bukan lagi dua orang
yang hanya membawa kenangan.
Tetapi dua orang
yang sudah berhasil
melewati perjuangannya masing-masing.
Namun jika ternyata
jalan kita berbeda,
aku tetap ingin bersyukur.
Karena pernah mengenalmu
telah mengajarkanku
bahwa tidak semua orang
datang untuk tinggal.
Ada yang datang
untuk memberikan pelajaran.
Ada yang datang
untuk memberikan semangat.
Dan ada yang datang
untuk membuat kita
menjadi pribadi yang lebih baik.
Jadi,
biarlah rindu ini tetap ada.
Tidak perlu dipaksa hilang.
Tidak perlu dipaksa menjadi pertemuan.
Cukup kita jaga
dengan doa.
Semoga kamu baik-baik saja
di tempatmu.
Semoga cita-citamu tercapai.
Semoga langkahmu selalu dimudahkan.
Dan jika memang Allah
menuliskan pertemuan kembali
untuk kita,
semoga pertemuan itu terjadi
bukan karena kita mengejar rasa,
tetapi karena Allah
telah memilih waktu
yang paling tepat.
Sebab ada rindu
yang tidak harus disampaikan.
Ada rasa
yang tidak harus dimiliki.
Dan ada jarak
yang justru mengajarkan kita
cara mencintai dengan lebih baik.
Cirebon, 4 Oktober 2026 (jam 00.45)