Air Mata Berbuah Asa
Karya: Yesika AlfiyanaMalam menyaksikan air mataku jatuh,
Membawa luka yang tak sempat luluh,
Kusimpan tangis di hati yang rapuh,
Saat angin menerpa tubuh yang lusuh.
Tangisku tak pernah berbentuk air,
Hanya sesak yang diam-diam terus mengalir,
Menjadi doa yang tak pernah berakhir,
Menjadi harapan agar luka dapat terusir.
Pernah kutanya kepada langit,
Mengapa bahagia terasa begitu sulit?
Mengapa langkah seakan terus tercekik,
Oleh pikiran yang kian terasa rumit?
Air mata menjadi saksi yang bicara,
Tentang rindu yang bersembunyi di balik nestapa,
Dalam sunyi yang menelan setiap suara,
Kutemukan asa di antara retaknya jiwa.
Tumbuh dari luka yang menyakiti,
Bertahan meski perih tak kunjung berhenti,
Sebab tangis tak selalu berarti kalah,
Kadang, ia mengajarkan jiwa untuk kembali melangkah.
Bandung, 1 september 2026