Secercah Kabut Sesal dan Ingatan Kelam
Karya: Tri YuniantiSecercah Kabut Sesal dan Ingatan Kelam
Di malam yang sunyi, terlintas potongan ingatan.
Pahatan wajah indahmu yang muncul tak permisi.
Suaramu terngiang di telingaku, memecah kesunyian tanpa peringatan.
"Seandainya," kata itu terus membelenggu hati, hingga frustrasi.
Sesal menghujam hatiku begitu saja, luruh sudah rerintik lara.
Teringat kau dipalak, hingga kau memilih pergi ke kota seberang.
Engkau pergi tanpa pamit, memendam trauma dan lara.
Namamu selalu kusebut dalam doaku meski amin terhalang.
Kupandang fotomu dengan nanar.
Kutatap kedua mata indah yang tertutup kabut.
Menutup perlahan netramu, merenggut paksa duniamu tanpa sadar.
Remuk hatiku melihat masa depanmu terenggut.
Aku siap menjadi tongkat putih yang menuntun langkahmu.
Tapi apalah daya, ini hanya cinta sepihak yang tak satu.
Kiblatku tak sama denganmu.
Tuhan memang satu, kita yang sukar bersatu.
Purwokerto, 6 September 2026