Tumpang Tindih
Karya: Sulis Salasatul WaladiahJika detik adalah jarum yang menusuk waktu,
mengapa detak di dada kerap tertinggal di persimpangan sepi?
Gemuruh langkah menyibukkan pendengaranku.
Di penghujung lorong yang ramai, di samping sebuah pintu,
bangku yang dingin mulai menahan berat tubuhku.
Setiap detak yang berpacu dan mengikis waktu
membawa letih mengikuti arus yang dingin di bangku itu.
Namun, secercah asa ikut terbawa oleh arus yang kian lekat.
Aku berharap
pintu itu menelan kembali kabar yang hendak menjadi gema.
Jejak yang tersusun di sudut mataku
mengaburkan pandangan.
Dan ramainya lorong kali ini berbeda, seolah semua orang kehilangan pena
untuk mengukir makna—tidak.
Siapa yang berkenan mengukir makna di bangunan yang sesak ini?
Bangunan yang menjadi wadah penantian
memenjarakanku bersama jengah yang merekah.
Sendu yang mengendap, menagih bayang-bayang waktu
untuk membawanya pergi.
Garut, 12 September 2026